Manual Adaptasi Kolaborasi Pelayanan dan Pengendalian Tuberkulosis-Diabetes Melitus (TB-DM) di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama

Authors

  • Merita Arini Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
  • Desy Rahmayani, S.Kep., Ns. Prof. dr. Adi Utarini, MPH., M.Sc., Ph.D. dr. Riris Andono Ahmad, MPH., Ph.D.drg. Yudiria Amelia B. dr. Iva Kusdyarini dr. Endang Sri Rahayu Endang Dwi Hartatik, S.ST Setyogati Candra Dewi, S.ST dr. Henny Maryanti dr. Savina Hasbiani dr. Wahyu Budhi Handayani dr. Wilanisa Amilia Rosmita Putri Cahyaning Fitria, AMK. Dwi Wulandari, Amd. Kep. Has Fran Septedi Budi Setyawati, Amd. Kep. Susi Wulandari, AMK. Titing Ayuningtyas, Amd.Kep Titis Yulianti,

Keywords:

TB-DM;, Adaptasi Kolaborasi Pelayanan;, Pengendalian;

Abstract

Tuberkulosis dan Diabetes Melitus (TB-DM) merupakan gambaran nyata dari adanya double burden disesase di Indonesia. Kedua penyakit tersebut masih menjadi penyumbang tingginya angka kesakitan dan kematian, baik di dunia maupun Indonesia. Penyakit DM merupakan salah satu faktor risiko TB, demikian pula TB dapat berkembang menjadi hiperglikemia transien yang dikemudian hari dapat menetap sebagai DM. Komorbiditas kedua penyakit ini, selain menimbulkan dampak sosial eknomi, juga diketahui menyebabkan outcome yang lebih buruk termasuk risiko penularan yang makin tinggi di masyarakat.

            Kolaborasi TB-DM telah disepakati secara internasional sebagai salah satu upaya end TB strategy dan termaktub sebagai aspek penting dalam SDG’s (Sustainable Development Goals). Oleh karena itu, sejak dicanangkannya kerangka pelayanan dan pengendalian TB-DM secara kolaboratif oleh WHO (2011), Indonesia telah menetapkan serangkaian regulasi maupun panduan yang berlaku secara nasional. Namun demikian, umumnya implementasi di lapangan belum dimulai dan belum dilaksanakan dengan optimal. Terdapat perbedaan kondisi lapangan yang membutuhkan kajian dan penyesuaian. Di sisi lain, masih dibutuhkan lebih terdefinisikan secara operasional beberapa aspek teknis yang terkait implementasi kolaborasi kedua program.

            Manual adaptasi ini disusun berdasarkan kerangka kolaborasi pelayanan dan pengendalian TB-DM WHO (2011), Expanded Chronic Care Model, regulasi, serta panduan nasional yang berlaku. Langkah-langkah yang ditetapkan dalam panduan ini merupakan hasil serangkaian proses pembahasan dan uji coba yang melibatkan para pakar, dinas kesehatan, petugas kesehatan di fasilitas kesehatan primer maupun sekunder, kader kesehatan, serta pasien. Selain memperhatikan evidence based medicine, adaptasi ditetapkan dengan mempertimbangan pendapat, pengalaman, serta perspektif dari pihak-pihak terkait. Manual adaptasi ini diujicobakan di beberapa puskesmas kota Yogyakarta untuk mendapatkan gambaran mengenai acceptability, feasibility, adoption, dan apropriateness penerapan kolaborasi pelayanan dan pengendalian TB-DM.

            Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan buku ini masih didapatkan berbagai kekurangan dan dimungkinkan terdapat pengembangan dikemudian hari. Oleh karena itu, masukan yang konstruktif dibutuhkan guna peningkatan implementasi kolaborasi TB-DM di masa mendatang. Besar harapan kami, manual adaptasi ini dapat digunakan sebagai panduan implementasi kolaborasi pelayanan dan pengendalian TB-DM yang berkualitas di Kota Yogyakarta dan disebarluaskan di berbagai wilayah lain di Indonesia.

References

AHRQ. (2018). Self-Management Support. Diakses dari https://www.ahrq.gov/ncepcr/tools/self-mgmt/self.html pada 16 November 2020.

Barr, V. J., Robinson, S., Marin-Link, B., Underhill, L., Dotts, A., Ravensdale, D., & Salivaras, S. (2003). The expanded Chronic Care Model: an integration of concepts and strategies from population health promotion and the Chronic Care Model. Hospital Quarterly, 7(1), 73–82. https://doi.org/10.12927/hcq.2003.16763

CDC. (2013). Core Curriculum on Tuberculosis: What the Clinician Should Know. In Data Communications for Engineers (sixth edit). CDC. https://doi.org/10.1007/978-1-349-21915-5

Crevel, R. van, Koesoemadinata, R., Hill, P. C., & Harries, A. D. (2018). Clinical management of combined tuberculosis and diabetes. Int J Tuberc Lung Dis, 22(12), 1404–1410. https://doi.org/10.1007/978-3-642-40308-8_2

Dinas Kesehatan DIY. (2017). Profil Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2017. In Dinas Kesehatan DIY. http://www.depkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KES_PROVINSI_2017/14_DIY_2017.pdf

Harries, A. D., Satyanarayana, S., Kumar, A. M. V., Nagaraja, S. B., Isaakidis, P., Malhotra, S., Achanta, S., Naik, B., Wilson, N., Zachariah, R., Lönnroth, K., & Kapur, A. (2013). Epidemiology and interaction of diabetes mellitus and tuberculosis and challenges for care: a review [Review article]. Public Health Action, 3(1), 3–9. https://doi.org/10.5588/pha.13.0024

Jiménez-Corona, M. E., Cruz-Hervert, L. P., García-García, L., Ferreyra-Reyes, L., Delgado-Sánchez, G., Bobadilla-Del-Valle, M., Canizales-Quintero, S., Ferreira-Guerrero, E., Báez-Saldaña, R., Téllez-Vázquez, N., Montero-Campos, R., Mongua-Rodriguez, N., Martínez-Gamboa, R. A., Sifuentes-Osornio, J., & Ponce-De-León, A. (2013). Association of diabetes and tuberculosis: Impact on treatment and post-treatment outcomes. Thorax, 68(3), 214–220. https://doi.org/10.1136/thoraxjnl-2012-201756

Jindal, S. K., Jindal, A., & Agarwal, R. (2016). Upper respiratory tract tuberculosis. Microbiol Spectrum, 4(6), 1–9. https://doi.org/10.1128/microbiolspec.TNMI7-0009-2016

Kapur, A., & Harries, A. D. (2013). The double burden of diabetes and tuberculosis – Public health implications. Diabetes Research and Clinical Practice, 101(1), 10–19. https://doi.org/10.1016/j.diabres.2012.12.001

Kemenkes RI. (2015a). Konsensus Pengelolaan Tuberkulosis dan Diabetes Melitus (TB-DM) di Indonesia. file:///D:/S3/pra proposal/TB article/konsensus nasional tb-dm.pdf

Kemenkes RI. (2015b). Pedoman Panduan Pengelolaan TB-DM di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Kemenkes RI.

Kemenkes RI. (2015c). Petunjuk Teknis Penemuan Pasien TB-DM di FKRTL. Kementerian Kesehatan RI. http://www.tbindonesia.or.id/tbidcnt/uploads/2017/02/Buku-Petunjuk-Teknis-Penemuan-Pasien-TB-DM-Di-Fasilitas-Kesehatan-Rujukan-Tngkat-Lanjut.pdf

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2016 Tentang Penanggulangan Tuberkulosis, Pub. L. No. 67, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 163 (2016). http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No._67_ttg_Penanggulangan_Tuberkolosis_.pdf

Keputusan Menteri Indonesia Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/755/2019 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 139 (2019).

Kementerian Kesehatan RI. (2010). Pedoman Manajerial Pelayanan Tuberkulosis dengan Strategi DOTS di Rumah Sakit.

Kementerian Kesehatan RI. (2018). Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 1–100. https://doi.org/1 Desember 2013

Ohene, S.-A., Bonsu, F., Hanson-Nortey, N. N., Toonstra, A., Sackey, A., Lonnroth, K., Uplekar, M., Danso, S., Mensah, G., Afutu, F., Klatser, P., & Bakker, M. (2017). Provider initiated tuberculosis case finding in outpatient departments of health care facilities in Ghana: Yield by screening strategy and target group. BMC Infectious Diseases, 17(1), 1–11. https://doi.org/10.1186/s12879-017-2843-5

Restrepoa, B. I., & Schlesinger, L. S. (2014). Impact of diabetes on the natural history of tuberculosis. Diabetes Res Clin Pract., 106(2), 191–199. https://doi.org/10.1016/j.diabres.2014.06.011.

van’t Hoog, A. H., Langendam, M., Mitchell, E., Cobelens, F. G., Sinclair, D., Leeflang, M. M. G., & Lönnroth, K. (2014). Symptom- and chest-radiography screening for active pulmonary tuberculosis in HIV-negative adults and adults with unknown HIV status. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2014(1). https://doi.org/10.1002/14651858.CD010890

Wang, Q., Ma, A., Han, X., Zhao, S., Cai, J., Ma, Y., Zhao, J., Wang, Y., Dong, H., Zhao, Z., Wei, L., Yu, T., Chen, P., Schouten, E. G., Kok, F. J., & Kapur, A. (2013). Prevalence of type 2 diabetes among newly detected pulmonary tuberculosis patients in china: A community based cohort study. PLoS ONE, 8(12), 1–8. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0082660

WHO. (2011). Collaborative framework for care and control of Tuberculosis and Diabetes. World Health, 314(5805), 2. https://doi.org/ISBN 978 92 4 150225 2

WHO. (2016). Diabetes Fakta dan Angka. In World Health Organization. http://www.searo.who.int/indonesia/topics/8-whd2016-diabetes-facts-and-numbers-indonesian.pdf

WHO. (2020). Global Tuberculosis Programme: Our response to COVID-19. WHO. https://www.who.int/teams/global-tuberculosis-programme/covid-19

Wingood, G. M., & Diclemente, R. J. (2008). The ADAPT-ITT model: A novel method of adapting evidence-based HIV interventions. Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes, 47(SUPPL. 1), 40–46. https://doi.org/10.1097/QAI.0b013e3181605df1

Published

2020-07-21

Issue

Section

NON FIKSI