Optimalisasi Peningkatan Kualitas Hidup Lansia Melalui Penyuluhan dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Gunungkidul

Authors

  • Annisa Nurdiana Sari Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
  • Iqhwanul Muslimin Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
  • Qoni’ Hikaya Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
  • Tia Safitri Ahmad Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
  • Nabilah Rahmadiah Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
  • Baiq Aulia Annisa Safitri Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
  • Ririn Septiana Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
  • Arjun Firman Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
  • Erni Saharuddin Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.55314/jcoment.v5i1.549

Keywords:

Kesehatan Lansia, Hipertensi, Diabetes, Asam Urat

Abstract

Penduduk lanjut usia (lansia) di Daerah Istimewa Yogyakarta, terutama di Gunungkidul, perlu menjadi perhatian khusus. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa seiring dengan meningkatnya populasi, berbagai penyakit yang dialami oleh orang lanjut usia meningkat, terutama diabetes melitus, hipertensi, dan asam urat. Kualitas hidup orang tua menjadi lebih buruk karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran akan bahaya penyakit tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko atau angka kematian akibat penyakit adalah dengan mencegah penurunan kualitas hidup orang tua dengan melakukan kegiatan penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan. Metode pengabdian masyarakat ini melibatkan partisipasi masyarakat dalam penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan untuk 60 orang. Hasilnya menunjukkan bahwa 52 orang lansia memiliki berat badan yang normal, 30 orang memiliki tekanan darah tinggi yang pre-hipertensi, 30 orang memiliki gula darah yang pre-diabetes, dan 12 orang laki-laki dan 38 orang perempuan memiliki asam urat yang normal pada lansia laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, untuk mengurangi angka tersebut, diperlukan pengawasan dan pelatihan rutin. Kualitas hidup orang tua dapat menurun jika tidak ada kegiatan. Dampak terburuknya yaitu terjadinya berbagai macam komplikasi masalah kesehatan karena tidak tepat dalam menanganinya. Diperlukan kesadaran dari lansia dan bantuan dari pelayanan kesehatan setempat untuk dapat mengatasinya.

References

BKKBN. (2014). Lansia Tangguh Tujuh Dimensi. Jakarta: BKKBN.

BPS. (2020). Jumlah Penduduk Lansia di Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: BPS.

Khotimah, N., Gunardo, G., Ghufron, A., Sugiharti, S., & Aryekti, K. (2016). Lanjut usia (Lansia) peduli masa depan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Geo Media: Majalah Ilmiah Dan Informasi Kegeografian, 14(November), 51–66.

Milita, F., Handayani, S., & Setiaji, B. (2018). Kejadian Diabetes Mellitus Tipe II pada Lanjut Usia di Indonesia ( Analisis Riskesdas 2018 ). Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, 17(1).

Perkeni. (2021). Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia 2021.

Pratiwi, E., Marcelin, A., Putri, M., Utami, S., Widyarani, L., Widyastuti, N., Adi, G. S., Nasriyah, C., & Ira, F. (2023). Edukasi Kesehatan Lansia dengan Penyakit Kronik Melalui Pemanfaatan Bahan Alami dan Budaya Hidup Sehat di RSUD Wonosari Gunung Kidul. 3(2), 754–761.

Riskesdas. (2018). Laporan Riskesdas 2018 Nasional.pdf.

Seran, R., Bidjuni, H., Onibala, F., Studi, P., Keperawatan, I., & Kedokteran, F. (2016). HUBUNGAN ANTARA NYERI GOUT ARTHRITIS DENGAN TIMUR KECAMATAN PASAN KABUPATEN. 4.

Shaharuddin, S. H., Wang, V., Santos, R. S., Gross, A., Wang, Y., Jawanda, H., Zhang, Y., Hasan, W., Jr, G. G., Arumugaswami, V., & Sareen, D. (2021). Deleterious Effects of SARS-CoV-2 Infection on Human Pancreatic Cells. 11(June), 1–17. https://doi.org/10.3389/fcimb.2021.678482

WHO, (World Health Organization). (2016). on noncommunicable diseases.

Published

2024-05-09

Issue

Section

Article Text: Health