PEMETAAN KASUS PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT WILAYAH NGAMPILAN TAHUN 2017

Authors

  • Hery Setiyawan Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia
  • Hendra Rohman Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia
  • Widya Safitri Dano Jafar Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia

Keywords:

-

Abstract

Salah satu Negara berkembang dengan kasus ISPA tertinggi adalah Indonesia dan selalu menempati urutan pertama penyebab kematian ISPA pada kelompok bayi dan balita. Di Puskesmas Ngampilan tahun 2015 sebayak 3146 kasus, tahun 2016 sebanyak 2530 kasus, dan tahun 2017sebanyak 2833 kasus. ISPA menjadi peringkat pertama dalam10 besar penyakit di Puskesmas Ngampilan. Tujuannya memetakan persebaran penderita penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut berdasarkan wilayah kerja Puskesmas Ngampilan, mengetahui diagram kunjungan pasien penderita penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut berdasarkan jenis kelamin diwilayah kerja Puskesmas Ngampilan serta mengetahui diagram kunjungan pasien penderita penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut berdasarkan golongan umur diwilayah kerja Puskesmas Ngampilan. Penelitian deskriptif. Subjek adalah 1 orang kepala bagian TU dan 1 petugas rekam medis di Puskesmas Ngampilan. Teknik purposive sampling data pasien penderita ISPA tahun 2017 sebanyak 2833. Hasil, pada peta menunjukkan bahwa tingkat persebaran penderita ISPA yang tertinggi di wilayah kelurahan Notoprajan sebanyak 1.660 penderita ISPA, berdasarkan jenis kelamin tingkat penderita perempuan lebih tinggi sebanyak 1.011 orang, laki-laki sebanyak 1.007 orang, berdasarkan golongan umur tiga tertinggi pada umur 0-4 tahun sebanyak 547 orang, umur 5-11 sebanyak 442 dan umur 56-65 sebanyak 383 orang dari total wilayah kelurahan Ngampilan dan Notoprajan. Faktor pendukung yang mempengaruhi ISPA adalah curah hujan, ketingian wilayah, status sosial, pendidikan. Kesimpulan, pasien terbanyak berasal dari Kelurahan Notoprajan yaitu 1660 kasus ISPA, Berdasarkan jenis kelamin, memiliki persentase yang lebih tinggi berada pada pasien perempuan yaitu 1.518 orang, laki-laki yaitu 1.007 orang. Berdasarkan usia, tiga tertinggi berada pada umur 0-4 tahun sebanyak 547 orang, umur 5-11 sebanyak 442 dan umur 56-65 sebanyak 383 orang dari wilayah kelurahan Ngampilan dan Notoprajan.

References

Ayers JG (2009). Forsberg B, Annesi-Maesano I,Dey R, Ebi KL, Helms PJ, Medine-Ramon M, Menne B, Windt M, Forasitiere F. The Environment end Health Committee of the European Respiratory society. Climate change and Respiratory Dieseas: a position statement. Eur Respir J. 2009;34:295-302.

Departemen Kesehatan RI. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Jakarta: Depkes RI; 2010.

Utami, N. R. P. (2019). Pengelompokan Kasus Tuberkulosis Paru dan Upaya Promosi Kesehatan di Wilayah Mlati II Sleman Yogyakarta. Al-Tamimi Kesmas: Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (Journal of Public Health Sciences), 8(2), 68-73.

Rohman, H. (2018). Spatial Patterns of Pulmonary Tuberculosis Analysing Rainfall Patterns in Visual Formation. International Journal of Public Health Science (IJPHS), 7(1), 13. https://doi.org/10.11591/ijphs.v7i1.11376.

Rohman, H., Jannah, H. M., & Muharry, A. (2018). Spatial Pattern Pulmonary Tuberculosis Patient: Accessibility, Environment And Lifestyle Factor In Rural Area. International Seminar Rural Urban and Community Health.

Rohman, H. (2019). Pola Spasial dan Aksesibilitas Penggunaan Pelayanan Kesehatan: Pengobatan Ulang Tuberkulosis. Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat, 13(2), 49-55.

Rohman, H. (2019). Pola Spasial dan Aksesibilitas Penggunaan Pelayanan Kesehatan: Pengobatan Ulang Tuberkulosis. Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat, 13(2), 49-55.

Published

2019-06-30

Issue

Section

Article Text: Health