Di Emperan Warung Nasi
DOI:
https://doi.org/10.55314/jsp.v2i6.155Keywords:
puisi;, Emperan;, Warung Nasi;Abstract
Tergerus arus, manusia mulai menghisap kembali nafsu bebalnya
Duduk menepi di emperan warung nasi, lalu berdoa membuka percakapan dengan sang Ilahi
Meneguk seteguk demi seteguk, tampak sumringah membuka hadiah berbalut kotak putih
Namun di dalam sana, kicauan bahagia membumbung bersama kepulan asap beraroma sedap
Seharusnya dia juga demikian, berhenti berseteru dengan takdir dan membawa kedua sayapnya melebarkan senyum di dalam sana
Tapi memang begini kenyataannya, Tuhan berpihak untuk menempanya menjadi lapisan baja
Jajaran manusia suci mulai berburu ke muara pahala, berjarak, dan membentang menyisakan sedikit ruang aura dalam wajahnya
Dia tersenyum, mengingat sosok kecil berpeci yang berlarian menenteng petasan kemasan merah
Memang berat bulan suci dalam tahun penuh kejutan, termakan ego menetap mencari makan, mengurung rasa penuh renjana dalam sekat yang membendung huru-hara
Berpikir, arti sebuah puasa menahan dahaga tertampis oleh ruam yang menyala tersulut amarah
Namun seduhan rindu akan kumandang adzan menampar atmanya, Tuhan tidak suka manusia yang memendekkan tujuan hidupnya
Tak ayal kini dia tersenyum menutup dahaga, Tuhan memang bukan praduga
Berhenti menepi, kendaraannya menggerung menuntun berbaris bersama jajaran manusia suci
Published
Issue
Section
Copyright (c) 2021 Henik Fuji Rahmawati

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.


