Matrescence dan Fenomena 'Perfect Mother'
DOI:
https://doi.org/10.55314/jsp.v2i6.138Keywords:
matrescence, good enough mother, ibu yang cukup baik, perfect mother, ibu yang sempurnaAbstract
Ketika bayi kecil itu berada dalam pelukan Anda, Anda merasa semestinya diri setiap saat berbahagia.
Ketika bayi kecil itu menangis, Anda merasa semestinya diri secara instingtif langsung memahami apa yang ia mau.
Ketika bayi kecil itu telah meluncur ke dunia, Anda merasa semestinya diri harus memprioritaskannya di atas segala—lebih-lebih dari Anda sendiri.
Tapi, benarkah Anda setiap detik merasa bahagia, selalu tahu apa yang malaikat mungil itu inginkan secara insting, serta harus mengutamakannya dalam situasi dan kondisi apapun?
Jika tidak, maka tidak perlu merasa bersalah sama sekali karena sesungguhnya fenomena tersebut sangatlah wajar dialami seorang ibu. Sama lazimnya, sama membingungkannya sebagaimana Anda dahulu melalui fase adolesens— masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Kini Anda tengah menjalani apa yang para antropolog sebut sebagai: Matrescence.
Berakar pada kesulitan para ibu dalam menjalani fase Matrescence, berselang tahun kemudian tercipta konsep the good enough mother (ibu yang cukup baik) sebagai kontras dari stigma yang terbentuk oleh kultur sosial atas peran ibu untuk menjadi the perfect mother atau ibu yang sempurna.
References
Leigh, B. (2016). The “Good Enough” Parent. Centre for Perinatal Psychology. https://bit.ly/3gfPtza
MD, A. S. (2017). Matrescence--What Is It? https://bit.ly/35lvusl
MD, A. S. (2018). Why We Need The Word “Matrescence.” Medium. https://bit.ly/3czFAKw
Naumburg, C. (n.d.). The Gift of the Good Enough Mother. Seleni. https://bit.ly/3iysBfT
Wedge, M. (2016). What Is a “Good Enough Mother”? Psychology Today. https://bit.ly/3zxeMo2
Published
Issue
Section
Copyright (c) 2021 Made Dike Julianitakasih Ilyasa

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.


